» » Muslimah Produktif , Itulah Guru yang Syar’i

Sebagai manusia kita dituntut untuk senantiasa belajar. Karena pada hakekatnya belajar adalah kodrat seorang manusia. Belajar adalah kewajibak manusia khusunya bagi umat muslim. Baik laki-laki maupun perempuan. Allah telah mewajibkan kita untuk selalu belajar. Belajar dari kalam-kalamnya baik yang Nampak maupun tidak nampak. Dengan tarbiyah, kita pastinya akan mendapat seribu kebaikan. Dengan tarbiyah kita juga pasti akan mendapat modal untuk berdakwah. Kita tidak bisa menyampaikan suati ilmu ketika kita tidak belajar.Bahkan Rasulullah pun ketika mendapat wahyu, dipaksa untuk “Iqro”, bacalah. Hal ini membuktikan bahwa kita sebagai umat muslim harus senantiasa tarbiyah.

Setalah kita belajar, tentunya sebagai khairu ummat kita harus menyampaikan apa yang kita tahu. Allah telah memberikan kalam-Nya yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah:216 yang berbunyi
“Diwajibkan atas kamu berperang padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Yang dimaksud berperang adalah berjihad. Lalu jihad yang seperti apa? Jihad bisa berarti berdakwah. Berdakwah bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Berdakwah bisa dilakukan di dalam kelas. Dengan menjadi seorang guru , tentunya kita telah memiliki kesempatan untuk menyerukan amar ma’ruf nahi munkar. Allah memerintahkan kita tidak hanya mencari kebahagiaan di dunia saja. Tapi harus mencari bekal untuk bahagia di surga-Nya kelak. Jangan terlena dengan kemewahan dunia, karena bisa jadi ia hanyalah tipu muslihat yang nyata.

Seorang muslimah, kita harus menjadi manusia yang tangguh. Sebagai seorang wanita, kita harus bisa berdakwah. Berlaku syar’i. Sarana yang paling tepat untuk berdakwah selain menjadi ibu rumah tangga, adalah menjadi seorang pendidik. Seorang pendidik tentunya memiliki tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab itu adalah menciptakan generasi berkarakter untuk Indonesia yang lebih baik.

Seorang guru muslimah adlah ibu bagi anak-anak didiknya. Memiliki anak didik menjadikan seorang pendidik memiliki asset-aset yang luar biasa. Bayangkan jika tiap-tiap anak didiknya berhasil mengamalkan ilmu yang diberikan oleh sang pendidik, itu akan menjadi ladang amal bagi seorang guru. Oleh sebab itu, guru harus menjadi tenaga pendidik yang syar’i.

Guru muslimah tentunya haarus berpenapmpilan syar’i. Menutup auratnya, melindungi diri sang pendidik dari tatapan haram non mahram. Dalam istilah jawa, guru berarti digugu lan ditiru. Maksudnya adalah seorang guru merupakan sesosok manusia yang harus mampu dipercaya dan ditiru oleh masyarakat. Disinilah sosok seorang guru syar’i dibutuhkan. Seorang guru yang mampu meberikan contoh yang baik dengan perbuatannya, dengan penampilannya serta dengan ilmu yang diajarkan. Seorang guru merupakan agen perubahan untuk Indonesia. Kita telah mengetahui bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Percuma saja Negara kita menyandang predikat itu namun kondisi keislaman masyarakat berada pada lowgrade. Maka disinal peran guru yang syar’i dibutuhkan.

Sebagai kaum hawa, tentunya kita harus sentiasa berada dalam kodrat kita. Jangan pernah menggunakan istilah emansipasi untuk menghalalkan segala keinginan kita sehingga kita bertingkah seperti kaum adam. Jangan karena kata emansipasi membuat kita lupa akan kodrat kita sebagai muslimah. Oleh sebab itu, ketika kita ingin menjadi sosok muslimah produktif, kita harus memilah dibagai mana kita harus berperan. Sebagai apa kita akan berperan. Menjadi seorang pendidik adalah kodrat kita sebagai wanita. Karena pada hakikatnya seorang perempuan memiliki naluri untuk mengajar anak-anaknya.

…….Bersambung..:)

About Agus Priyono

Hi there! I am Hung Duy and I am a true enthusiast in the areas of SEO and web design. In my personal life I spend time on photography, mountain climbing, snorkeling and dirt bike riding.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

1 komentar: